Dalam sesi penutup, adik-adik dan orang tua atau pendamping Pre School Little 1 Academy BDNI Yogyakartamelakukan tepuk
sayang. Tepuk sayang ini dibuat dengan mudah dan gembira agar anak dapat mengekspresikan kasih sayang lewat bahasa
tubuh yang memberi dampak luar biasa bagi tumbuh kembang anak dan meningkatkan
hubungan emosional antara anak dan orang tua.
*Tepuk sayang
Plok …plok…plok
Berpelukan
Tepuk-tepuk
Usap-usap
Goyang-goyang
Plok…plok…plok
Orang tua : "Anak Hebat" *(menyebutkan nama anak)
Anak : "Terimakasih mama" Orang tua : "Mama sayang adek"
Anak : "Adek sayang Mama, terimakasih mama"
Orang tua : "Terimakasih sayang".
Kak Santi dan Kak Rifka memperagakanTepuk Sayang di hari pertama Little Egg Class. (17 Juli 2012)
Ibu dan ayah, tidak terasa sekarang ananda sudah semakin besar.
Tulang dan otot kaki-tangannya, sudah semakin panjang dan kuat. Ia sekarang
bergerak lebih lincah dan bisa berlari. Kelucuan bayi kecil memang masih
terlihat di wajah dan tubuhnya, tetapi sekarang ia bukan bayi lagi.
Selepas masa bayi, umumnya anak-anak dimasukkan ke program
pendidikan nonformal, seperti Kelompok Bermain (KB) untuk anak umur 3—4 tahun
atau Taman Kanak-kanak (TK) untuk anak umur 5—6 tahun. Nantinya, pada umur
sekitar 6 tahun, barulah ananda akan memasuki pendidikan formal, seperti
Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Mengingat program pendidikan di KB dan TK sering terlihat
seperti bermain dan bernyanyi saja, sehingga banyak juga orangtua yang memilih
untuk mengasuh sendiri anak di rumah dan nanti langsung memasukkannya ke SD.
Hal ini sah-sah saja, meski sebenarnya banyak hal yang dipelajari anak elalui
kegiatan bermain dan bernyanyi ini. Anak memperoleh rangsangan yang dapat
membantu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangannya, sehingga ia menjadi
lebih siap memasuki program pendidikan di SD.
Apa pun pilihan ibu-ayah, baik untuk anak yang diikutkan dalam
program pendidikan KB dan TK atau anak yang diasuh sendiri sampai usia masuk
SD, tetap saja ibu dan ayah merupakan peran utama dalam proses pengasuhan anak.
Ibu dan ayah diharapkan dapat memberikan rangsangan yang membantu anak mencapai
perkembangan yang berkualitas. Apalagi kita tahu masa 0—6 tahun adalah masa
dimana anak memiliki kemampuan belajar yang sangat besar. Jadi, bila hanya
mengandalkan program belajar di KB dan TK yang biasanya berlangsung paling lama
2 jam, tidaklah cukup. Kegiatan memberi rangsangan pada anak harus berlangsung
juga di rumah.
Tidak mudah memang, mengasuh anak yang mulai besar. Terdapat
beberapa tantangan tersendiri yang harus dihadapi ibu dan ayah. Buku kecil ini
dipersembahkan untuk memudahkan ibu-ayah dan orang dewasa lain dalam menghadapi
anak-anak usia 3—6 tahun. Dengan membaca buku ini, diharapkan ibu dan ayah
dapat bekerja sama dengan mentor atau guru di KB dan TK dalam upaya
mengoptimalkan perkembangan anak.
A.MEMAHAMI ANAK USIA 3-6 TAHUN
Usia 3-6 tahun adalah masa perkembangan yang menarik. Di usia
ini anak menjadi amat menggemaskan karena mereka sudah bisa berjalan dan
bicara. Banyak sekali kemampuan baru lain yang ditunjukkannya.
Nah,
berikut ini perkembangan yang dialami anak dalam rentang umur 3—6 tahun.
Perkembangan
Fisik
Selain bertambah tinggi dan berat, terjadi perkembangan sel-sel
otak yang sangat pesat. Dengan berkembangnya sel otak, kemampuan anak
mengendalikan gerakannya pun semakin baik. Terdapat 2 jenis gerakan yang mulai
dikuasai anak usia ini, yaitu gerakan motorik kasar (gerakan yang melibatkan
otot-otot besar) dan gerakan motorik halus (gerakan yang melibatkan otot-otot
kecil).
Perkembangan
Kecerdasan
Perkembangan sel otak membuat anak mulai dapat memusatkan
perhatian lebih lama terhadap sesuatu; mulai bisa mengingat sesuatu, bahkan
untuk hal-hal yang detail; juga mulai bisa membedakan hal-hal nyata dan
bayangan atau mimpi.
Perkembangan
Bahasa
Sampai sekitar usia usia 6 tahun, anak dapat mengucapkan sekitar
10.000 kata. Ia juga mampu merangkai kata menjadi sebuah kalimat sederhana.
Mula-mula hanya kalimat yang terdiri atas 2 kata, seperti, “Ade mamam”, lalu
menjadi lebih banyak dan kalimatnya pun semakin lengkap, seperti, “Ade besok
mau makan ayam goreng buatan nenek.”
Perkembangan bahasa berkaitan dengan perkembangan aspek lain.
Ketika anak berbicara dengan ibu-ayah, ia bukan hanya belajar berbahasa,
melainkan juga belajar tentang aturan-aturan, apa yang harus dilakukannya atau
petunjuk umum tentang cara menghadapi suatu masalah.
Perkembangan
Emosi
Anak mulai mengenali perasaan-perasaan yang lebih rumit selain
rasa senang dan sedih. Ia juga mulai lebih paham apa yang menyebabkan munculnya
suatu perasaan tertentu. Meski demikian, pemahamannya masih sangat sederhana.
Hal lain yang juga mulai terlihat adalah kemampuan memahami perasaan orang lain
dan mengendalikan diri. Kedua kemampuan itu amat dibutuhkan untuk belajar
berteman dan mempertahankan pertemanan.
Selain itu, anak-anak usia ini masih sangat mudah terpengaruh
oleh perasaan orang lain, sehingga ia sering terlihat mudah kasihan pada orang
lain. Perasaan seperti ini dibutuhkan untuk menumbuhkan kepedulian dan
ketulusan membantu.
Perkembangan
Identitas Diri
Anak masih berpikir dengan cara sederhana. Bagi mereka hanya ada
“hitam dan putih” atau “baik dan buruk”. Kebanyakan anak melihat diri mereka
sebagai anak baik. Hanya anak-anak yang sering mengalami kekerasan akan merasa
dirinya anak yang tidak berguna atau nakal.
Perkembangan konsep diri memang banyak dipengaruhi lingkungan.
Lihat saja konsep diri yang berkaitan dengan jenis kelamin. Bagaimana
lingkungan memperlakukan anak laki-laki atau perempuan, akan berpengaruh
terhadap perilaku anak. Misalnya, dengan membedakan permainan atau baju-bajunya,
maka anak laki-laki akan menyukai permainan bola, sedangkan anak perempuan main
boneka; baju anak laki-laki berwarna biru, anak perempuan berwarna merah muda.
Terkadang lingkungan juga dapat menentukan sikap anak laki-laki atau perempuan.
Contoh, anak laki-laki dibiasakan berani, tidak boleh menangis, boleh memanjat
dan boleh bermain jauh. Sedangkan anak perempuan boleh terlihat malu-malu, atau
harus rapi dan teliti.
Perkembangan
Sosial
Bila semasa bayi anak lebih sering bersama ibu dan ayah, maka dengan
kemampuan berbahasa yang makin baik, ia mulai dapat menjalin hubungan dengan
orang-orang di sekitarnya, seperti adik, kakak, anak-anak kecil lain atau orang
dewasa lain. Bagaimana cara ibu dan ayah berhubungan dengan anak, akan sangat
memengaruhi caranya bergaul dengan orang lain.
Orangtua yang peka dan memberi rasa aman pada anak, akan membuat
anak memiliki rasa percaya diri ketika berhubungan dengan orang-orang di
sekitarnya.
Sedangkan hubungan anak dengan adik atau kakak, akan
mengembangkan kemampuannya untuk peduli pada orang lain dan keinginan membantu.
Itulah sebabnya terlihat tingkat kepedulian yang berbeda antara anak-anak
tunggal dan anak-anak yang bersaudara banyak.
Hubungan dengan teman sebaya, umumnya mulai dijalin ketika anak
memasuki usia 2 tahun, terutama anak belajar bagaimana berbagi dan menunggu
giliran main. Anak di usia ini memang mulai ingin terlibat dalam kegiatan
bermain bersama teman.
B.APA YANG DIPELAJARI ANAK DI KB ATAU TK?
Perkembangan otak diyakini oleh para ahli terjadi sangat pesat
di masa anak-anak. Bayangkan saja, 50% perkembangan sel-sel otak terjadi ketika
anak mencapai usia 4 tahun dan 80% ketika anak berusia 8 tahun. Oleh karena
itu, anak-anak usia 3—6 tahun diharapkan diikutkan dalam program Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD). Negara-negara yang sudah mengembangkan program PAUD
dengan serius, menganggap program pendidikan di tahap ini tidak lagi hanya
sebagai pelengkap, tetapi sama penting dengan pendidikan di SD dan selanjutnya.
Terdapat 2 tingkatan program untuk anak usia 3—6 tahun yang
sudah dikenal masyarakat Indonesia, yaitu:
Program untuk anak 3-4 tahun,
dikenal dengan nama Kelompok Bermain (KB).
Program untuk anak 5-6 tahun,
dikenal dengan nama Taman Kanak-Kanak (TK) atau Raudatul Athfal (RA).
Kedua program pendidikan ini, utamanya bertujuan untuk
menyiapkan anak menghadapi cara belajar di SD. Meski demikian, kegiatan
pembelajaran dalam program ini, tampak belum seserius cara belajar anak-anak
SD.
Anak
usia dini belajar dengan caranya sendiri. Bermain merupakan cara belajar yang
sangat penting dan utama. Bermain dianggap penting karena anak akan belajar
dengan perasaan senang, aktif, tidak terpaksa dan merdeka. Nantinya guru akan
memasukkan unsur-unsur pembelajaran dalam kegiatan bermain, sehingga anak tidak
sadar telah belajar berbagai hal. Misalnya, ketika anak diajak menyanyikan lagu
yang menyebutkan semua anggota tubuh, anak juga belajar tentang anggota
tubuhnya (kepala, pundak, lutut, kaki, dan sebagainya).
Proses belajar yang dilakukan melalui pemberian rangsang fisik
maupun psikologis ini, diharapkan dapat mengoptimalkan semua aspek
perkembangan, meliputi (1) moral dan nilai agama, (2) sosial-emosional, (3)
kecerdasan, (4) bahasa, (5) fisik-motorik, dan (6) seni. Pengembangan secara
menyeluruh ini dianggap perlu, karena anak-anak dalam program PAUD dipandang
sebagai individu yang baru mengenal dunia.
Anak belum mengenal tatakrama, sopan-santun, aturan, norma atau
aturan bergaul yang membantunya untuk berhubungan dengan orang di sekitarnya,
sehingga perlu dibimbing. Anak juga perlu dibimbing memahami berbagai fenomena
alam dan mengetahui keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup.
C.BEBERAPA KEMAMPUAN YANG HARUS DIAJARKAN PADA ANAK USIA 3—6 TAHUN.
Melakukan
jadwal beraktivitas dan beristirahat yang sehat.
Anak seharusnya sudah tahu kapan waktu istirahat dan kapan waktu
beraktivitas. Ia tidak perlu lagi dipaksa untuk berhenti bermain kala berada di
sekolah atau diminta tidur ketika di rumah.
Memperlihatkan
kebiasaan makan yang sehat.
Anak diharapkan sudah bisa makan sendiri dengan rapi. Ia juga
mau mencoba berbagai rasa atau jenis makanan baru.
Dapat
buang air besar dan kecil sendiri di tempatnya.
Paling tidak ia harus sudah bisa memberi tahu kapan akan buang
air besar (BAB) atau kecil (BAK) dan mau belajar untuk dapat BAB atau BAK
sendiri, dengan cara yang sesuai jenis kelaminnya. Selain itu, anak juga perlu
belajar menyesuaikan diri dan dapat menerima berbagai kondisi jamban atau kamar
mandi.
Mampu
melakukan aktivitas fisik yang dibutuhkan sesuai usianya.
Termasuk kegiatan motorik kasar (seperti memanjat,
menyeimbangkan diri, berlari, meloncat, mendorong, menarik, menangkap), motorik
halus (seperti mengancingkan baju, menarik retsleting, menggunting, menggambar,
mewarnai, membentuk tanah liat).
Ikut
serta dalam kegiatan keluarga.
Anak seharusnya sudah mampu terlibat dalam berbagai kegiatan
keluarga (seperti ke acara pernikahan) dan menerima tanggung jawab, meski
sederhana (seperti membereskan mainan).
Menunda
dan mengendalikan keinginan.
Bayi-bayi kecil tentu saja tidak bisa menunda keinginannya untuk
mendapatkan sesuatu. Semakin besar, anak harus dapat mengendalikan diri.
Terhadap teman, ia harus dapat berbagi dan menunggu giliran. Sedangkan ketika
berada di tempat tertentu, seperti tempat ibadah, ia harus menyesuaikan
tindakannya, seperti tidak boleh berlari atau berteriak-teriak.
Menunjukkan
perasaan dengan cara yang sehat.
Di usia ini, anak diharapkan mampu membedakan lebih banyak jenis
perasaan, bukan hanya terbatas pada senang atau sedih. Jenis perasaan lain yang
perlu dikenalnya adalah rasa takut, sayang, bersemangat, senang, cemas atau
sedih. Selain memahami perasaan sendiri, anak juga diharapkan dapat memahami
perasaan orang lain, sehingga ketika menun18 jukkan perasaannya, sudah
mempertimbangkan perasaan orang lain. Misalnya, ketika marah, ia tidak boleh
berteriak dan memukul, karena hal itu menyakiti orang lain.
Memulai
dan mempertahankan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Anak sudah bisa bercerita atau mendengarkan orang lain.
Keterampilan ini diperlukan dalam berteman, sehingga tidak heran bila di usia
ini anak sudah dapat berteman.
Menghindari
bahaya.
Anak diharapkan paham hal-hal yang membahayakan, seperti api,
lalu lintas, tempat tinggi, racun, binatang, kolam yang dalam, dan sebagainya.
Ia juga perlu paham apa yang harus dilakukan untuk menghindari bahaya sesuai
usianya. Contoh, anak diajarkan cara menyeberang jalan, menghadapi anjing, atau
menolak tawaran orang asing.
Berani
menunjukkan keinginannya.
Anak mampu bercakap-cakap. Ia juga memiliki rasa ingin tahu yang
besar, sehingga kebanyakan anak sudah mampu menyampaikan pemikirannya,
bertanya, dan berinisiatif melakukan sesuatu
Mulai
memahami tentang dirinya sendiri, konsep Tuhan dan benda-benda di sekitar.
Misalnya,
perbedaan jenis kelamin, cara kerja suatu alat atau paham tentang benda-benda
alam (bintang, matahari).
D.TANTANGAN MENGASUH ANAK USIA DINI DAN CARA MENGATASINYA
Baik sekolah maupun ibu-ayah, pada dasarnya memiliki keinginan
yang sama dalam mendidik dan mengasuh anak usia dini, yaitu menyiapkan anak
untuk menghadapi kehidupan. Hanya saja, sekolah lebih khusus menyoroti kesiapan
anak menghadapi pelajaran di SD, sedang ibu-ayah menyoroti kesiapan anak
menghadapi tantangan dalam kehidupannya secara keseluruhan. Adanya kesamaan
tujuan ini seharusnya membuat kedua pihak dapat saling bahu membahu dalam
mengembangkan kemampuan anak usia dini.
Memang, tidak mudah mengasuh anak pada usia ini. Setelah
mengetahui kemampuan apa yang harus dicapai anak di usia ini, ibu dan ayah juga
perlu tahu masalah yang sering muncul pada usia ini dan cara mengatasinya.
Berikut adalah berbagai tantangan yang sering dihadapi orangtua berkaitan
dengan perkembangan anak usia 3—6 tahun dan cara mengatasinya.
Tantangan
Anak sangat aktif, tidak bisa diam, sehingga membutuhkan
perhatian lebih. Hal ini sering melelahkan ibu dan ayah.
Saran
Tindakan
Anak menjadi sangat aktif
karena rasa ingin tahunya. Untuk membuatnya mau memusatkan perhatian lebih
lama pada suatu kegiatan, pikirkan kegiatan bermain yang menarik. Mengajak
bermain juga dapat mengajari anak akan banyak hal.
Berikan fasilitas bermain
sesuai dengan usianya. Tidak perlu mahal, karena banyak barang yang dapat
dimanfaatkan. Cari barang yang menarik perhatian dan dapat digunakan untuk
belajar sesuatu, tetapi aman.
Contoh, kotak karton mi instan
dipakai bermain rumah-rumahan.
Sempatkan diri untuk
beristirahat, karena memang mengikuti aktivitas anak sering membuat kita
lelah.
Tantangan
Dalam beraktivitas (berkegiatan), anak belum bisa memperkirakan
bahaya, sehingga selalu harus dijaga.
Saran
Tindakan
Perhatikan lingkungan rumah,
cari alat-alat yang membahayakan anak, lalu jauhkan atau simpan di tempat
yang aman. Selain itu, ubah tata ruang bila memang membahayakan. Contoh,
buatlah tempat penyimpanan khusus untuk pisau, linggis, cangkul, gergaji
dan benda-benda tajam lain; tumpulkan sudut-sudut meja, terutama meja
kaca; berikan pagar pengaman di tangga.
Jelaskan pada anak tentang
bahaya dan ajarkan cara menghindarinya.
Misalnya, naik ke tempat tinggi
akan membuatnya jatuh, jadi ajarkan cara memanjat yang benar.
Manfaatkan bantuan orang lain
untuk membantu menjaga anak, tetapi jangan lupa untuk memberi tahu apa
yang harus dan tidak boleh dilakukan, selain juga harus tetap “memeriksa”
sesekali.
Tantangan
Anak belum bisa mematuhi jadwal kegiatan rutin dan mulai suka
melawan atau menghindar bila diminta melakukan sesuatu.
Saran
Tindakan
Hindari hukuman dalam mengajarkan disiplin. Untuk itu lakukan:
Pertama kali, tentukan perilaku
yang ibu-ayah harapkan.
Jelaskan pada anak, mengapa hal
itu harus dilakukan. Semakin konkret penjelasannya, semakin mudah
dipahami.
Bantu anak untuk mengikuti jadwal
atau perilaku yang telah ditetapkan.
Berikan pujian ketika anak
mampu melakukannya, bahkan ketika perubahan yang terjadi amat sedikit.
Sepakati hadiah di awal. Hadiah
tidak perlu mahal. Contoh, bila dalam 1 minggu minimal ia menyikat gigi
sebelum tidur sebanyak 5 kali, akan diberi 1 buah ikat rambut. Anak-anak
selalu senang melakukan sesuatu untuk hadiah
Tantangan
Anak sering bertengkar dengan temannya.
Saran
Tindakan
Di usia ini anak memang sedang
belajar membina hubungan sosial, terutama dengan teman. Agar dapat
berteman, paling tidak ia harus belajar berbagi dan menunggu giliran.
Jadi, biasakan anak untuk melakukannya di rumah, baik dengan ayah, ibu
maupun anggota keluarga lain.
Jelaskan pada anak, apa yang
diharapkan untuk dilakukannya dalam situasi itu, misalnya meminta pada
teman, bukan merebut.
Beri kesempatan pada anak untuk
menceritakan situasi sebenarnya. Dalam menceritakan, terdapat hal penting
yang sangat berarti bagi anak, yaitu kesempatan menunjukkan emosinya. Tunjukkan
bahwa ibu-ayah memahami emosinya, misalnya dengan mengatakan, “Anak Ibu
sepertinya sedih sekali mainannya direbut ya?”
Jelaskan
kemungkinan-kemungkinan mengapa hal itu dapat terjadi, seperti, “Mungkin
Dodi marah karena kamu memukul tangannya, Nak.”
Ajarkan cara mengatasinya.
Bahkan ajarkan kata-kata yang harus diucapkan untuk mengatasi situasi
pertengkaran itu.
Bila memungkinkan, fasilitasi
anak untuk memperbaiki hubungannya dengan temannya, dengan mengutamakan
keadilan. Cara ibu-ayah mengatasi masalah akan ditirunya dan hal itu
membuat anak belajar menghadapi masalah dalam hubungan pertemanan.
Selalu berikan pujian pada anak
ketika ia melakukan suatu tindakan yang sudah sesuai.
Tantangan
Anak masih suka mengamuk dan berlebihan ketika mengekspresikan
(mengungkapkan) perasaannya
Saran
Tindakan
Anak-anak menjadi berlebihan
dalam mengekspresikan emosi (berteriak, menangis keras, mengamuk,
berguling-guling di lantai) karena ketika ia mencoba menarik perhatian
ibu-ayah, tidak segera mendapatkannya. Oleh karena itu, tunjukkan
perhatian ibu-ayah sejak awal, misalnya dengan menoleh padanya atau
mendekat ketika ia memanggil atau mengajak bicara.
Bila sudah mengamuk, jauhkan
anak dari benda-benda berbahaya.
Peluk anak atau tunjukkan bahwa
ibu-ayah peduli padanya. Emosi anak biasanya akan mereda. Tindakan
ibu-ayah menunjukkan kepekaan dan pemahaman atas perasaannya. Ini akan
mengajari anak untuk peka pula pada perasaan orang-orang di sekitarnya.
Bila anak mulai memukul,
tangkap tangannya dan tatap matanya sambil mengatakan “STOP”. Pilih kata
yang singkat
Ajak bicara, pahami masalahnya,
lalu ajarkan dan bantu anak menyelesaikan masalahnya. Tidak berarti
ibu-ayah harus selalu mengikuti kemauannya, lo. Misalnya, ia ingin es
krim, padahal tidak boleh karena sedang pilek. Alihkan dia pada makanan
yang memungkinkan.
Dalam suasana
yang sudah menyenangkan, ajarkan cara meminta perhatian ibu-ayah tanpa
perlu berteriak atau marah.
Tantangan
Mengingat anak mulai bersekolah, ibu-ayah sering cemas tentang
biaya pendidikan untuk anak.
Saran
Tindakan
Persiapkan anggaran sedini
mungkin, bahkan sejak ananda masih bayi, agar upaya menabung tidak dirasa
memberatkan.
Pisahkan tabungan untuk
pendidikan agar memudahkan ibu-ayah mengatur anggaran keuangan keluarga.
Realistis dalam merencanakan
anggaran. Hitung dulu seberapa besar penghasilan ibu-ayah, baru kemudian
tentukan rencana yang paling mungkin dicapai.
Tentukan prioritas. Jika
kebutuhan hidup sangat banyak dan sulit untuk menyisihkan dana pendidikan
ananda, maka kurangi beberapa pos pengeluaran yang tidak terlalu penting,
seperti belanja pakaian dan jajan yang tak perlu.
Pilih cara menyimpan dana
pendidikan. Umumnya dana pendidikan diatur dengan menabung atau membeli
asuransi. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Pelajari keduanya dan pilih yang paling sesuai untuk ibu-ayah.
Tantangan
Anak sering meniru perilaku ibu dan ayah. Misalnya, ketika ia
menegur kakak untuk tidak ribut, sangat mirip dengan ayah, lengkap dengan
tangan yang menunjuk-nunjuk.
Saran
Tindakan
Anak-anak pada usia ini memang
sedang senang meniru. Ketika meniru, sebenarnya ia sedang mengembangkan
kemampuan sosialnya. Dalam perkembangan sosialnya, ibu dan ayah memang
memiliki pengaruh yang besar. Peran yang dijalani ibu dan ayah dalam
membantu perkembangan sosial anak adalah sebagai :
1)Lawan bicara. Mengajak anak bicara, berarti mengajari dan
mendorongnya untuk berinteraksi dan menjalin hubungan.
2)Pelatih. Ibu-ayah memang merupakan pelatih dan contoh bagi anak
tentang bagaimana cara menjalin hubungan dengan orang di sekitarnya.
3)Sebagai orang yang mencarikan kesempatan dan aktivitas bagi anak
agar kemampuan bersosialisasinya berkembang. Terkadang anak-anak tidak berani bicara
dengan orang lain. Ketika ia diminta untuk bersalaman, mengucapkan terima kasih
atau menyebut nama, ibu dan ayah telah memberinya kesempatanan untuk menjalin
hubungan dengan orang lain.
Sumber
Bacaan
The
Process of Parenting oleh J. Brook. Penerbit: Mc. • Graw-Hill, tahun 2008
Marriage
and Family Development oleh E. Duvall. • Penerbit: J.B. Lippincott Company.
tahun 1977
Child
Development oleh Laura E. Berk. Penerbit: • Pearson Education Inc., tahun 2003
The
Big Book of How to Say It oleh Dr. Paul Coleman & • Richard Heyman, Ed. D.
Penerbit: Prentice Hall Press, tahun 2001
28
Sukses Mengasuh Anak 3-6 Tahun
Amy
Kadarharutami, M.Psi
Direktorat
Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat
Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal
Komunikasi
yang terjalin antara ibu dan ayah dengan anak sering kali tidak berjalan
selaras. Padahal, ketidakselarasan komunikasi ini selanjutnya dapat berdampak
pada perilaku anak di masyarakat. Anak bisa mencari pelarian yang salah di luar
rumah (lingkungan) karena anak merasa ibu dan ayahnya tidak dapat mengerti
permasalahan yang dihadapinya. Ketidakselarasan komunikasi antara ibu-ayah dan
anak biasanya disebabkan adanya perbedaan dunia anak dengan dunia orang dewasa.
Tentunya bukan anak yang harus menyesuaikan, melainkan ibu-ayahlah yang
seharusnya memahami.
Ibu
dan ayah tercinta, sebelumnya mari kita lihat sebuah data survei yang
menggemparkan dari KOMNAS Perlindungan Anak Indonesia terhadap anak-anak SMP
dan SMU di 12 kota besar di indonesia, tahun 2007 tentang perilaku menyimpang
pada remaja. Dari 4.500 anak SMP dan SMU, 3.000 di antaranya mengaku sudah
tidak perawan! Bahkan, ada pula (21,2%) yang pernah menggugurkan kandungan!
Para
pakar pendidikan menyimpulkan, sebagian besar hal ini terjadi awalnya
disebabkan oleh kurangnya komunikasi ibu-ayah dengan anak sejak usia dini, yang
kemudian terkumpul dan membesar. Pengakuan dari salah seorang anak mengungkap
bahwa mereka melakukan hal itu tanpa sepengetahuan orangtuanya, selain itu
beberapa melakukannya karena merasa kurang diperhatikan oleh orangtuanya.
Kurangnya komunikasi antara ibu-ayah dengan anaknya membuat anak merasa kurang
diperhatikan sehingga mereka mencari sumber perhatian dan kasih sayang yang
lain.
Sebagai
orangtua, kita merasa sudah memberikan perhatian dan kasih sayang cukup. Sering
kali kita tidak mau menyadari kesalahan kita dan cenderung lebih menyalahkan
anak atas perbuatannya tersebut. Hingga akhirnya bisa berakibat fatal dan hal
ini tentu akan sangat merugikan kita maupun anak.
Apakah komunikasi itu?
Secara
umum komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau pertukaran
kata-kata/gagasan dan perasaan, di antara dua orang atau lebih.
Pada
anak usia dini, berbicara adalah salah satu contoh dari bentuk komunikasi.
Contoh lainnya, seorang bayi berusia 3 bulan menangis keras, ibunya datang
menghampiri dan memeriksa popok bayi yang ternyata basah. Tangisan si bayi
merupakan bahasa komunikasi yang digunakannya untuk menyampaikan pesan. Mengapa
diperlukan komunikasi dengan anak sejak usia dini?
Anak
usia dini memiliki karakteristik yang unik. Mereka berpikir konkret (nyata) dan
lebih percaya dengan apa yang mereka lihat daripada yang mereka dengar. Ibu dan
ayah yang memiliki keterampilan berkomunikasi akan meliputi:
1.Mengenali anak-anak dengan lebih baik
lagi
2.Mengetahui keinginan dan minat anak;
3.Dapat menjelaskan suatu pengetahuan,
nilai agama, nilai moral, nilai sosial pada anak dengan cara yang lebih mudah;
4.Menjadi lebih percaya diri dalam
berkomunikasi sehingga menjadi berhasil guna.
5.Pentingnya komunikasi bagi anak usia
dini:
6.Mampu mengembangkan kecerdasan bahasa.
7.Mampu belajar tentang pengetahuan
sekitarnya.
8.Mampu membangun kecerdasan sosial
emosional.
9.Mampu menjalin hubungan kekeluargaan, mengembangkan
kepercayaan diri dan harga diri anak.
10.Mampu meningkatkan kecerdasan berpikir
anak untuk membedakan benar salah.
11.Mengembangkan kepedulian terhadap
lingkungan dan alam sekitar.
12.Mengenalkan pada Tuhan Maha Pencipta.
13.Sebagai alat untuk menyelesaikan
masalah.
Karakteristik anak usia
dini dalam berkomunikasi:
Anak
berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata dan isyarat tubuhnya.
Kemampuan
bahasa anak terus didorong untuk membantu anak dalam mengungkapkan
keinginan dan menjalin hubungan dengan orang lain.
Awal Kata dan Kalimat
Pada Komunikasi Anak Usia Dini
Kata-kata
pertama adalah ucapan seorang anak setelah mampu bicara dengan orang lain.
Kata-kata pertama merupakan cara seorang anak untuk menyampaikan pesan kepada
orang lain, biasanya dianggap sebagai proses perkembangan bahasa yang
dipengaruhi oleh kematangan kecerdasan. Kematangan kecerdasan tersebut biasanya
ditandai dengan kemampuan anak usia dini untuk menyusun kata dalam berbicara.
Kemampuan ini akan terus berkembang jika anak usia dini sering berkomunikasi atau
berinteraksi2 dengan orang lain.
Perkembangan kalimat pada
anak usia lima tahun pertama:
1. Tahap Awal Bahasa di
Usia 0—1 Tahun
Ditandai
dengan kemampuan bayi untuk mengoceh sebagai cara berkomunikasi dengan ibu dan
ayahnya. Bayi mampu memberikan respons atau tanggapan yang berbeda-beda
terhadap perangsangan yang diberikan oleh orang di sekelilingnya. Contoh, bayi
akan tersenyum
Kepada orang yang
dianggapnya ramah; sebaliknya, dia akan menangis dan menjerit kepada orang yang
dianggap tidak ramah atau ditakutinya.
2. Tahap Bahasa Dini di
Usia 1—2½ Tahun
Ditandai
dengan kemampuan anak membuat kalimat menggunakan satu kata maupun dua kata
dalam suatu percakapan dengan orang lain. Periode ini terbagi atas 3 tahap:
a. Bicara satu kata,
yaitu kemampuan anak membuat kalimat yang terdiri dari satu kata tetapi
mengandung pengertian secara menyeluruh dalam suatu percakapan. Misal, ananda
mengatakan, ”Ibu.” Hal ini dapat berarti, “Ibu tolong saya.”; ”Itu Ibu.”; ”Ibu
ke sini.”
b. Bicara dua kata,
yaitu kemampuan anak membuat kalimat menggunakan dua kata sebagai ungkapan
komunikasi dengan orang lain. Contoh, “Kakak jatuh.”; “Lihat gambar.”
c. Bicara lebih dari
dua kata, yaitu kemampuan anak membuat kalimat secara lengkap lagi. Umpama,
”Saya minum susu.”
3. Tahap Bahasa usia 2½—5
Tahun
Ditandai
dengan kemampuan anak menguasai bahasa yang lebih lengkap. Ragam kata dan
jumlahnyapun sudah berkembang. Contoh, “Saya mau makan buah melon.”; ”Saya
kemarin pergi ke rumah nenek di Bandung.”
Bentuk-Bentuk Komunikasi Berdasarkan Cara Pengasuhan Orangtua
A.Bentuk Komunikasi
Otoriter (Memaksakan Kehendak)
Saat
anak usia dini berkomunikasi, berbincang, maupun berdebat dengan kita, sering
kali seorang anak merasa kesal, marah, dan berakhir dengan keterpaksaan anak
menerima pendapat kita. Ini disebabkan sering kali anak dianggap sebagai orang
yang tak tahu apa-apa dan harus menurut apa kata dan kehendak kita. Hal
tersebutlah yang membuat anak enggan berkomunikasi dengan kita, karena sudah
dapat diketahui hasil akhirnya: anak harus menuruti kehendak ibu dan ayahnya.
Inilah
bentuk komunikasi otoriter yang tidak disukai anak usia dini. Ciri-cirinya saat
sedang menjalin komunikasi bisa dilihat sebagai berikut:
a.Lebih banyak bicara daripada
mendengar, ini merupakan sifat kebanyakan ibu dan ayah. Kita merasa lebih
mengerti dan lebih berpengalaman daripada anak kita. Padahal ini dapat membuat
anak putus asa dan enggan menjalin komunikasi yang lebih baik dengan kita.
b.Cenderung memberi nasihat dan arahan,
tanpa memedulikan perbedaan masa lalu kita dengan masa anak. Kita cenderung
mengatakan ini boleh atau itu tidak boleh dan mengharuskan anak mematuhi tanpa
menjelaskan alasan dan sebab akibat jika mereka melakukannya. Tak jarang kita
memberikan alasan yang tidak dipahami anak kita.
c.Tidak mau mendengar dan memahami
dahulu masalah yang dialami anak. Hal ini biasanya lebih dikarenakan
keterbatasan waktu yang kita miliki, sehingga kita enggan berlama-lama
mendengarkan masalah anak kita.
d.Tidak memberi kesempatan kepada anak
untuk mengungkapkan pendapat. Kita cenderung merasa paling tahu dan paling
benar daripada anak.
e.Selalu menyalahkan anak. Jika anak
melakukan kesalahan, kita tidak meminta penjelasan mengapa ia melakukan hal itu
dan mengapa ia tidak boleh melakukan hal itu.
f.Ibu dan ayah yang budiman, itulah gaya
komunikasi otoriter atau komunikasi yang memaksakan kehendak pada anak usia
dini dan hal ini tidak disukai oleh anak-anak kita.
B. Bentuk Komunikasi
Demokratis (Saling Menghargai)
Kita
harusnya mampu menjadikan saat berkumpul dan berbincang dengan keluarga sebagai
saat yang berkesan bagi anak, meski itu hanya beberapa menit dalam sehari. Yang
perlu kita pahami adalah setiap anak memiliki keinginan untuk dihargai dan
pendapat yang mungkin berbeda.
Hal-hal yang bisa ibu
dan ayah lakukan dalam menciptakan komunikasi yang berkesan dengan anak, antara
lain:
Anggap
anak sebagai teman. Berikan perhatian dan kasih sayang pada saat ia
menceritakan kisahnya, berikan tanggapan selayaknya seorang teman dan
bukan sebagai orangtua yang mengatur hidup anaknya.
Puji
keberhasilan-keberhasilan kecil yang telah dilakukan anak. Hal ini akan
membuat anak merasa dihargai dan bisa membuat bangga keluarga, juga dapat
menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Hargai
apa yang telah dilakukannya pada kita. Mungkin hanya sekadar perbuatan
kecil, seperti mengembalikan mainan pada tempatnya, menata sepatu di
raknya, dan sebagainya.
Gunakan
bahasa yang mudah dimengerti oleh anak, bila perlu kita cari ungkapan yang
paling sederhana agar ia dapat menangkap maksud tanpa salah mengartikan
perkataan kita. Selain itu, gunakan kata-kata yang menarik saat berbicara
dengannya dan sertai dengan canda-canda kecil agar ia tidak merasa
tertekan.
Yakinkan
pada anak, kita bisa diandalkan. Tentu tidak hanya sebatas kata-kata,
melainkan harus diwujudkan dengan perbuatan. Jadilah kita sebagai ibu dan
ayah yang dapat diandalkan dan selalu ada di saat-saat ia sedang
membutuhkan bimbingan, dorongan atau hanya sekadar pujian.
Ungkapkan
dengan perbuatan. Adakalanya komunikasi tidak terjalin melalui kata-kata
namun tidak berarti komunikasi tidak terjalin. Untuk menunjukkan kasih sayang
bisa diungkapkan melalui sentuhan, memeluk, membelai, menatap dengan
lembut ataupun mencium. Hal ini bisa membuat anak merasa disayang dan
diperhatikan.
Ibu
dan ayah terkasih, bila komunikasi demokratis yang saling menghargai ini
dilakukan, anak akan menyukainya dan akan menjadi komunikasi yang
berkesan.
C. Bentuk Komunikasi
Permisif (Membiarkan)
Kita
cenderung membiarkan anak, tidak peduli, dan kurang sekali terlibat saat
berkomunikasi dengan anak. Biasanya kita kurang menggunakan hak kita untuk
membuat aturan dan cenderung menerapkan hukuman pada anak, namun tidak
membimbing dan memberikan peran anak dalam keluarga.
Tip Berkomunikasi dengan
Anak
Ibu
dan ayah yang berbahagia, berkomunikasi dengan anak usia dini berbeda dari
berkomunikasi dengan remaja maupun orang dewasa. Pemikiran anak cenderung lebih
sederhana, konkret (nyata), penuh khayal, kreatif, ekspresif, aktif, dan selalu
berkembang. Untuk itu, ibu dan ayah harus dapat menyesuaikan cara
berkomunikasinya dengan anak-anak (bukan anak-anak yang harus menyesuaikan
dengan ibu dan ayahnya). Dalam bahasa lain, kita menerapkan komunikasi
demokratis atau yang saling menghargai.
Untuk
membuat anak usia dini merasa nyaman saat berkomunikasi dengan ibu dan ayah,
upayakanlah menerapkan hal-hal berikut:
1.Dengarkan apa yang diceritakan ananda
dan pancing untuk lebih banyak bercerita. Ia senang sekali menceritakan
pengalaman-pengalaman yang baru dilaluinya dan ia akan bersemangat bercerita,
jika ibu-ayah mendengarkan dan tertarik dengan apa yang diceritakannya.
2.Saat ananda sedang menceritakan
sesuatu, fokuskan perhatian pada ceritanya. Hentikan sejenak kegiatan yang
ibu-ayah lakukan, ajak ia mendekat dan dengarkan dengan saksama. Jika perlu,
beri sedikit tanggapan.
3.Ulangi cerita ananda untuk menyamakan
pengertian, karena mungkin bahasa anak berbeda dengan bahasa kita, sehingga
tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami cerita anak.
4.Bantu ananda mengungkapkan perasaannya
dengan bertanya. Jika ananda masih bingung tentang apa yang dirasakannya, apa
yang membuatnya sedih atau gembira, maka dengan meminta ia bercerita akan
membuatnya merasa diperhatikan.
5.Bimbing ananda untuk memutuskan
sesuatu yang tepat. Jelaskan akibat apa yang akan terjadi jika ia mengambil
suatu keputusan, jelaskan sebab dan akibat dari keputusan itu secara sederhana
agar mudah dimengerti olehnya.
6.Emosi ananda yang masih belum stabil
membuat ia mudah marah. Tunggu sampai ia tenang, baru dekati dan tanyakan apa
yang mengesalkan hatinya. Jangan sampai membuat ananda merasa sedang diabaikan
atau tak diacuhkan.
7.Saat berkomunikasi dengan anak usia
dini, ibu dan ayah tak perlu malu, misalnya harus berperan sebagai badut di
depan anak, jika dengan cara itu anak akan lebih bisa memahami dan mengerti apa
yang ibu-ayah maksudkan.
Komunikasi
dengan anak yang dijalin sejak dini dapat memudahkan dalam mendidik dan
mengarahkan anak usia dini. Yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Ibu-Ayah
Ketika Berkomunikasi dengan Anak.
Hindari dan tidak
dilakukan:
A. 12 gaya berkomunikasi negatif sebagai berikut:
1. Memerintah
2. Meremehkan
3. Membandingkan
4. Memberi julukan
negatif
5. Mengancam
6. Menyindir
7. Menyalahkan
8. Menasehati
9. Membohongi
10. Menghibur
11. Mengkritik
12. Menyelidik
Bila salah satu gaya
itu dilakukan, maka:
- Anak usia dini
tidak percaya pada perasaannya sendiri.
- Anak usia dini
tidak percaya diri.
B. Berbicara
tergesa-gesa.
Karena:
- Kemampuan anak usia
dini menangkap pesan masih terbatas.
- Tidak memberi kesempatan
pada anak usia dini untuk memahami pesan.
Bila hal tersebut
dilakukan, maka:
- Anak usia dini
tidak memahami pesan.
- Terjadi banyak
kesalahan dalam proses pengasuhan, akhirnya ibu-ayah jadi sering marah.
II. Yang boleh dilakukan:
A. Membaca bahasa isyarat
tubuh (perilaku anak).
Karena:
- Bahasa tubuh atau
perilaku anak lebih mudah dilihat dan tidak pernah berbohong.
- Bahasa tubuh lebih
nyata dibandingkan dengan bahasa lisan.
Bila hal tersebut
tidak dilakukan, maka:
- Kita tidak akan
memahami anak.
- Anak usia dini
lebih mudah emosi/marah.
B. Mendengarkan ungkapan
perasaan anak.
Dengan kita
mendengarkan ungkapan perasaan anak berarti:
- Mengurangi emosi
anak.
- Merangsang
kemampuan berbicara.
Caranya:
- Kita ikut merasakan
kesedihan, kegelisahan, dan kesenangan anak.
C. Mendengarkan aktif.
Untuk membangun anak
dalam hubungan sosialnya dan kepercayaan dirinya.
Caranya:
- Dengarkan dengan
sungguh-sungguh sepenuh perasaan.
- Wajah ibu-ayah
menghadap langsung ke wajah anak, dengan pandangan mata sejajar.
D. Menggunakan pesan
sayang.
Untuk melatih anak
memahami perasaan orang lain.
Caranya:
- Ungkapkan perasaan
sayang (positif) ibu-ayah kepada anak. Contoh, ”Ibu khawatir kalau kamu
berlari-larian seperti itu, nanti kamu bisa terjatuh, Nak.” Atau, “Ayah sayang
kamu, Nak. Karena itu Ayah sedih kalau kamu suka memukul temanmu.”
E. Menggunakan kata
motivasi
Gunakan kata ”ayo”,
”coba”, ”mari”, ”silakan” untuk menggantikan kata ”jangan” dan ”tidak”.
Catatlah berapa kali dalam sehari ibu dan ayah menggunakan kata ”tidak”,
”sudah”, ”berhenti”, ”jangan”, ”tunggu”, ”ayah/ibu bilang apa”. Gantilah
kata-kata tersebut dengan kata-kata positif dalam komunikasi:
- Untuk memberikan
motivasi dan dukungan, kata ”ayo”, ”coba”, ”mari”, ”silakan” dapat membantu
anak usia dini mencoba melakukan. Sedangkan kata ”jangan” dan ”tidak boleh”
kadang malah dapat mendorong anak melakukan perlawanan, penolakan atau ingin
mencoba. Contoh kalimat larangan, ”Jangan naik pohon, nanti jatuh!”
Dapat diganti dengan
kalimat ajakan, “Ayo, kita bermain di bawah pohon saja, pasti lebih
menyenangkan.”
- Untuk menggantikan
kalimat larangan harus diberikan pilihan yang dapat dipilih anak. Misalnya,
seorang anak bernama Ade, meloncat-loncat di atas kursi, maka kalimat yang kita
gunakan, misalnya, “Ade boleh duduk di atas kursi atau boleh meloncat di atas
karpet ini.”
F. Menggunakan kalimat
dan kata-kata positif.
Mengajak dengan
menggunakan kalimat positif dan melarang dengan alasan yang bisa dipahami anak.
Contoh:
- Anak mau naik pohon
yang basah karena hujan.
Kalimat yang biasa
digunakan adalah, ”Kamu jangan naik pohon, nanti jatuh.” Sebaiknya ganti dengan
kalimat, ”Nak, coba lihat, pohon ini licin karena hujan semalam, kamu bisa
terpeleset dan jatuh kalau naik pohon ini.” Atau, ”Pohon ini licin karena hujan
semalam, kamu bisa terpeleset dan jatuh kalau memanjatnya, jadi sebaiknya kamu
tidak naik pohon ini.”
- Anak berjalan
dengan menyeret selimutnya.
Kalimat yang biasa
digunakan, ”Selimutnya jangan diseret-seret begitu, nanti jadi kotor.” Gantilah
dengan kalimat positif berikut, ”Maaf, Nak, selimutnya sebaiknya tidak
diseret-seret begitu, nanti jadi kotor.” Atau, ”Maaf, Nak, angkat selimutnya
supaya tetap bersih.”
G. Membiasakan
mengucapkan kata “terima kasih”, “permisi”, ”maaf” dan ”minta tolong” pada anak
sesuai dengan kejadiannya.
Contoh:
- “Terima kasih ya,
Nak, Bunda dibantu merapikan mainan.”
- “Permisi ya, Nak,
Ibu ke dapur sebentar.”
- “Maaf, Nak, kita
bermainnya sudah cukup dulu, sekarang waktunya mandi.”
- “Nah, Ayah minta
tolong, sampahnya dibuang di tempat sampah, ya.”
H. Mengembangkan
pertanyaan terbuka.
Untuk melatih
berpikir kritis dan kecerdasan anak usia dini.
Caranya:
- Ajari anak
membedakan perbuatan baik dan buruk.
Contoh, ketika anak
menonton film kartun Tom and Jerry, tanyakan kepadanya, ”Nak, menurutmu,
perbuatan Tom dan Jerry yang selalu berkelahi itu, baik apa tidak ya? Sebaiknya
bagaimana, ya?”
- Ajari anak
membedakan benar dan salah.
Contoh, ”Nak,
sebaiknya kita membuang sampah di mana, ya?”
I. Menggunakan kata-kata
yang benar.
Untuk melatih anak
memiliki pengetahuan tentang tata bahasa yang benar, kita tidak dibenarkan
mengikuti atau menirukan kata-kata anak yang masih belum jelas, atau
pemenggalan kata yang tidak utuh. Contoh: kata ”mam-mam” untuk ”makan”, ”embin”
atau ”obin” untuk ”mobil”, dan sebagainya.
Jadi, kita harus
mengucapkan kata dengan istilah yang sebenarnya dan jelas. Contoh, kita mau
meminta anak usia dini menirukan kata ”makan”. Jangan katakan, ”Nak, agar kamu
jadi kuat dan sehat, kamu harus ma....” (mengharap anak melanjutnya dengan suku
kata ”kan”). Seharusnya kita mengatakan, ”Nak, agar kamu jadi kuat dan sehat,
kamu harus makan. Harus apa, Nak?”, dengan harapan anak akan mengatakan
”makan”. Jadi, gunakan kata yang utuh.
J. Memberikan contoh
perbuatan dari orangtua.
Apa yang dilihat anak
akan dilakukan, karena anak lebih percaya pada apa yang dilihat daripada
didengar. Jadi, sebaiknya ibu dan ayah memberikan contoh perbuatan secara
langsung pada anak.
Antara lain:
- Pembiasaan
menggosok gigi saat anak telah tumbuh giginya. Ibu dan ayah menggosok gigi di
dekat anak, anak diberikan sikat gigi yang sesuai dan dapat memotivasinya untuk
mencoba, semisal sikat gigi dengan bentuk dan gambar-gambar lucu.
- Pembiasaan membuang
sampah di tempat sampah. Ibu dan ayah menunjukkan sambil berkata, ”Kalau
membuang sampah harus di tempat sampah.”
- Pembiasaan
merapikan mainan. Ibu dan ayah memberikan contoh merapikan mainan, lalu anak
diminta melanjutkan sampai tuntas. Atau, ibu-ayah mengajak dan anak merapikan
mainan bersama-sama, ”Nak, ayo kita simpan kembali mobil-mobilan ini di kotak
mainannya.”
- Pembiasaan membaca.
Ibu dan ayah seringlah membaca buku, majalah, atau koran di dekat anak.
Sediakan buku cerita bergambar yang sesuai dengan usia anak untuk merangsang
anak tertarik dengan buku dan akhirnya jadi gemar membaca.
PESAN UNTUK IBU - AYAH
Ibu dan ayah yang
budiman, apa pun yang didengar dan dilihat oleh anak usia dini, merupakan
rangsangan yang akan diolah dan disimpan dalam ingatannya. Marilah kita
memberikan contoh yang nyata dan hindari penggunaan kata-kata yang tidak layak
didengar maupun sikap yang tidak layak dilihat olehnya. Untuk itu, dalam
berkomunikasi dengan anak, ibu dan ayah harus memerhatikan karakter anak usia
dini, agar komunikasi menjadi berhasil guna. Komunikasi harus dibina sedini
mungkin dan dilandasi oleh pengertian dari ibu-ayah. Tentunya, komunikasi yang
dapat dilakukan tidak hanya sebatas pada percakapan semata, tetapi juga bisa
diwujudkan melalui perbuatan, seperti sentuhan, belaian, ciuman, perhatian, dan
kata-kata positif.
Aturan yang
konsisten3 merupakan bentuk komunikasi tidak langsung, yang berperan dalam
proses pembiasaan anak selanjutnya. Jadi, ibu dan ayah harus menjaga
konsistensi tentang semua aturan yang disepakati dan pembiasaan yang dilakukan
bersama anak. Jika kesepakatan aturannya tidak boleh, maka kita pun tidak boleh
melakukannya. Ingatlah, pada dasarnya anak hanya ingin merasa diperhatikan dan
disayang oleh ibu-ayahnya.
Ibu dan ayah
tercinta, komunikasi kita yang berkualitas pada anak usia dini akan membuat
mereka mampu mengenal dan membedakan benar salah, memudahkan dalam mengetahui
akar persoalan, serta memberikan kepentingan yang terbaik untuk anak.
Harapannya, di masa yang akan datang, anak tidak salah dalam memilih pergaulan
di luar rumah dan tidak mencoba-coba sesuatu yang membahayakan, baik bagi
dirinya maupun lingkungannya.
Selamat menjalin
komunikasi dengan ananda tercinta!
DAFTAR ISTILAH
1. Karakteristik =
ciri-ciri khusus,
2. Ekspresif = mampu
memberikan (mengungkapkan) perasaan, maksud
3. Konsisten = ajek,
stabil,
SUMBER BACAAN
Perilaku menyimpang
remaja, Data survey KOMNAS • Perlindungan Anak Indonesia, tahun 2007
Modul Komunikasi
Dalam Pengasuhan Anak Usia Dini, • Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat
Jenderal Pendidikan Non-Formal Dan Informal, Direktorat Pendidikan Anak Dini
Usia, th.2008
Psikologi
Perkembangan, Hurlock, E. B.. Alih bahasa: • Dra. Istiwidayanti dan Drs
Soedjarwo, M.Sc.: Erlangga Jakarta th.1993
Hubungan antara Gaya
Pengasuhan Orang Tua dengan • Tingkah Laku Prososial Anak, Mahmud, H. R. Jurnal
Psikologi. Vol II. No. 1, h. 1-9: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, tahun 2003.
I love You Ayah
Bunda, Kumpulan Kisah Inspirasi • Pendidikan dan Parenting Terbaik Ayah Edy di
Radio SMART FM. Tahun 2009
Dedy Andrianto, S.Kom
Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan
Informal