Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Bermain Bagi Anak Usia Dini


Raya, bayi perempuan kecil berumur 3 bulan, sedang mengeluarkan bermacam-macam suara dari mulutnya sambil memandangi tangannya. Sesekali tangannya dimasukkan ke dalam mulut, diselingi tawa kecilnya. Di dekatnya, Rafi, kakak laki-laki yang berusia 3 tahun, bermain mobil-mobilan dengan menggunakan kulit jeruk bali. Sementara di luar rumah ada 5 anak perempuan dan laki-laki sedang bermain petak umpet sambil tertawa-tawa.

DUNIA ANAK ADALAH BERMAIN
Tahukah Ibu dan Ayah bahwa anak-anak di seluruh dunia melakukan suatu kegiatan yang disebut bermain? Tidak peduli mereka ada di Nigeria, Papua Nugini, Arab, Amerika, Eskimo, Nepal, Medan, Palangkaraya, Timika atau di mana pun. Ananda bisa bermain sendirian maupun dengan teman dan orang dewasa. Ananda dapat bermain dengan menggunakan alat permainan yang memang sengaja dibuat untuk anak-anak dan sudah digunakan di seluruh dunia sejak lama. Contohnya, boneka, bola, mainan yang merupakan tiruan dari alat-alat yang ada dalam kehidupan sehari-hari (seperti, alat masak-masakan, alat pertukangan, alat dokter-dokteran, mobi-mobilan), dan masih banyak lagi. Ananda juga dapat bermain dengan menggunakan apa pun benda yang mereka temukan, seperti kayu, batu, atau daun, menjadi mainan yang mereka inginkan. Ananda bermain seperti yang dicontohkan oleh orang dewasa atau anak-anak lain yang lebih tua. Ananda bermain dengan suara-suara yang mereka keluarkan atau percakapan yang mereka lakukan.

Pada dasarnya, semua orang bermain, dari bayi hingga remaja, bahkan sampai dewasa. Hanya saja, dibandingkan remaja dan orang dewasa, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermain. Hal ini didukung oleh Deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pasal 7:3 yang berbunyi, Anak perlu mendapatkan kesempatan penuh untuk bermain dan berekreasi, sama seperti kesempatan untuk mendapatkan pendidikan; masyarakat dan pemerintah harus berperan aktif mendukung pemenuhan hak tersebut.¨ Nah, karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermain, maka tidak salah kalau ada ahli yang mengatakan bahwa bermain adalah pekerjaan anak; melalui bermain, anak akan tumbuh dan berkembang.

Sejak bayi, ananda sudah bermain, karena bermain adalah suatu kegiatan yang secara alamiah telah dimiliki oleh setiap anak. Tidak seperti kegiatan berjalan, berbicara, menulis, membaca atau berhitung, yang membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mengajarkannya, maka untuk bisa bermain, anak-anak tidak memerlukan orang lain untuk memulai mengajarinya bermain. Sebenarnya, apa sih bermain itu? Secara umum orang berpendapat, bermain adalah kegiatan yang serta-merta atau tanpa direncanakan lebih dahulu, tidak mempunyai tujuan tertentu, dan lebih didorong oleh kebutuhan untuk memperoleh kesenangan. Jadi, bisa dibilang, bermain adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan anak-anak kita melakukannya setiap hari dengan senang hati. Dalam keadaan senang dan santai, tanpa disadari ananda akan lebih mudah mempelajari banyak hal. Semua yang dilihat dan didengar oleh ananda akan dengan mudah diiingat karena lebih berkesan, sehingga sebenarnya amat banyak hal yang dipelajari oleh anak-anak kita saat mereka sedang bermain.

Tentunya, kegiatan bermain anak berbeda-beda saat mereka masih bayi dibandingkan saat berusia 2 tahun. Ketika bayi, kegiatan bermain lebih banyak menggunakan anggota tubuhnya sendiri, kurang banyak menggunakan alat permainan, dan biasanya dilakukan sendirian atau dengan orangtua/orang dewasa lain. Setelah berusia sekitar 6 bulan, ananda mulai senang menggunakan alat permainan yang diberikan oleh orangtua. Sampai usia sekitar 2 tahun, biasanya ananda lebih banyak bermain di rumah dan lebih kerap bermain sendiri atau bersama dengan saudara kandung. Setelah masuk usia prasekolah (PAUD), barulah ananda lebih banyak bermain dengan teman sebaya.

MANFAAT BERMAIN
Dengan bermain, anak akan tumbuh dan berkembang. Ada 5 aspek perkembangan yang akan dirangsang dengan bermain, yaitu:
1. Aspek Fisik-Motorik
Yang dimaksud aspek fisik-motorik adalah kemampuan gerak, baik gerakan kasar maupun gerakan halus. Dengan bermain, ananda diharapkan dapat mengontrol, baik gerakan kasar maupun gerakan halusnya.
Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk merangsang gerakan kasar adalah:
a. Gerakan-gerakan menendang atau mengisap jari jemari pada bayi.
b. Berjalan pada satu garis lurus atau mengangkat satu kaki untuk keseimbangan.
c. Dudukkan ananda di pangkuan, pegang di bawah ketiaknya, gerakkan kaki Ibu/Ayah, dan buat suara seolah-olah ananda naik mobil/motor/kuda.
d. Menangkap atau menendang bola, dan masih banyak
Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk mengontrol gerakan halus adalah:
a. Menggenggam dan menggerak-gerakkan mainan pada bayi.
b. Bermain dengan tanah liat, ubleg, play dough.
Kegiatan ini baik untuk melatih keterampilan mengontrol jari-jemari. Sediakan adonan sagu dicampur air, berikan pewarna makanan atau menggunakan saus tomat, kemudian minta ananda mengambil adonan tersebut ke sebuah kertas dan membuat pola atau bentuk sesuai kehendak mereka.
c. Mengambil benda-benda berukuran kecil.
Kumpulkan beberapa benda kecil seperti biskuit, permen, batu kerikil, kulit kerang, dan lain-lain, lalu minta ananda mengambil benda-benda tersebut dan menaruhnya ke dalam botol. Kegiatan ini baik untuk melatih kemampuan gerakan halus serta menyatukan gerak dan irama antara mata dan tangan.

2. Aspek Sosial
Melalui bermain, ananda belajar mengenal jenis kelamin mereka, bagaimana membina hubungan dengan orang lain, mengerti aturan, bisa berbagi dengan orang lain, menunggu giliran, dan mampu memahami orang lain.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan aspek bahasa adalah:
a. Ajak ananda bermain teka teki mengenai nama tetangga di sebelah kiri, kanan, dan depan rumah. Misalnya, Siapakah nama ayah yang rumahnya ada di depan rumah kita?
b. Saat ananda bermain dengan teman-temannya, ajarkan agar ia mau berbagi mainan dengan teman atau menunggu giliran.

3. Aspek Emosi
Melalui kegiatan bermain, ananda dapat melatih kesabaran, belajar menerima kekalahan, kecewa, mengatur emosi marah, tidak mudah menyerah, dan dapat mengemukakan perasaan mereka.
Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk merangsang perkembangan emosi adalah:
a. Saat bermain bersama teman, lalu mereka rebutan mainan, maka ananda akan belajar mengatur emosi mereka.
b. Anak bermain peran sebagai guru, dapat melatih rasa percaya diri.

4. Aspek Bahasa
Saat bermain, ananda akan mendengar dan berbicara. Hal ini akan melatihnya untuk memahami orang lain dan menggunakan bahasa untuk mengungkapkan pikirannya. Selain itu, melalui bahasa, ananda juga belajar untuk menjalin hubungan dengan orang lain dan menambah penguasaan kata.
Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk mengembangkan aspek bahasa adalah:
a. Membacakan buku cerita.
b. Menyanyi lagu-lagu sederhana seperti Balonku.
c. Mengajak ananda berbicara dan bermain cilukba pada bayi.
d. Bermain tebak kata. Contoh, Benda ini dipakai untuk makan, bentuknya biasanya bulat, apakah itu.”

5. Aspek Kecerdasan
Melalui bermain, ananda belajar bagaimana menyelesaikan masalah, meningkatkan daya ingat, memusatkan perhatian pada suatu kegiatan, dan lain-lain.
Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aspek kecerdasan adalah:
a. Ajak ananda menyanyikan lagu Satu-satu aku sayang ibu hingga selesai. Saat menyanyi dan mengucapkan satu-satu, tunjukkan angka satu dengan jari, begitu seterusnya hingga tiga.
b. Ajak ananda menebak nama-nama anggota wajah, lalu beri pujian bila ia berhasil menunjukkan/menyebutkan. Misal, Ayo Nak, apa namanya ini sambil Ibu/Ayah menunjuk hidung atau mata, dan lainnya.
c. Bermain jual beli. Ini adalah awal ananda mengenal angka.

BELAJAR MELALUI BERMAIN
Tidak seperti anggapan salah yang sering dianut oleh banyak orang bahwa bermain adalah suatu kegiatan membuang-buang waktu dan dapat membuat anak menjadi bodoh. Ternyata, bermain adalah kegiatan yang menyenangkan dan dapat menjadi sarana belajar yang baik bagi anak, karena dilakukan tanpa tekanan dan paksaan. Penting untuk diingat, yang paling utama adalah kegiatan bermainnya itu sendiri, bukan belajarnya. Seperti sudah dijelaskan di atas, dunia anak adalah bermain, bahkan bermain adalah pekerjaan anak. Melalui kegiatan bermain, ananda belajar mengembangkan berbagai kemampuan yang dimilikinya dengan menyenangkan dan bahagia. Perlu dipahami, kemampuan anak usia dini untuk berkonsentrasi masih pendek, penguasaan bahasanya juga terbatas, dan anak pun masih mudah bosan. 
Oleh karena itu, anak usia dini belum siap untuk mengikuti kegiatan belajar secara formal di bangku sekolah. Bila ananda dipaksa untuk mengikuti kegiatan formal di sekolah, maka ia akan merasa tertekan, sehingga dapat mengalami gangguan belajar dan gangguan perilaku.

Jadi, Ibu dan Ayah, pada saat bermain, ananda juga belajar. Melalui bermain, ananda belajar memahami bagaimana suatu benda bekerja, misalnya, bagaimana kalau bangku didorong akan berbunyi, air akan menyebabkan basah, sendok selain digunakan untuk makan bisa juga digunakan sebagai telepon saat bermain pura-pura, dan sebagainya. Ananda juga akan belajar bagaimana caranya mengekspresikan diri dengan berbagai macam cara, seperti, bagaimana caranya bicara saat marah, kesal, tidak suka, dan lainnya. Bukan cuma itu. Pada saat bermain, ananda pun belajar mengenal dan menggunakan berbagai macam kata baru, terutama ketika ananda bermain pura-pura, seperti bermain jual-beli, tamu-tamuan, sekolah-sekolahan, dan lainnya. Kegiatan bermain juga dapat memperkuat dan mengendalikan otot-otot tubuh, serta belajar bekerja sama ketika ananda bermain dengan teman, semisal berjalan di titian, mengendarai sepeda, melempar dan menendang bola. Bahkan, ketika ananda menemui masalah dalam bermain, ananda diajak untuk berpikir kreatif dan menggunakan kemampuan memecahkan masalah. Contoh, bagaimana menghadapi teman yang tidak mau bergantian alat bermain, bergantian menggunakan alat permainan yang sama, dan sebagainya.

Yang penting diperhatikan oleh Ibu dan Ayah, dalam bermain, ada beberapa hal-hal yang harus dihindarkan, yaitu:
1. Pemaksaan oleh orangtua, karena akan mengubah suasana bermain menjadi bekerja.
2. Mengeritik atau mencemooh, sebab masih wajar kalau sesekali anak melakukan kesalahan;
3. Sikap mengatur apa yang harus dilakukan oleh anak sehingga anak tidak mempunyai kesempatan untuk berkreasi, berimajinasi, berani mencoba hal-hal baru.

ORANGTUA IKUT TERLIBAT
Ibu dan Ayah diharapkan ikut bermain bersama anak. Karena, keterlibatan Ibu dan Ayah dalam kegiatan bermain dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi ananda, yang pada akhirnya akan membuat hubungan anak dan orangtua menjadi lebih dekat. Ketika Ayah dan Ibu bermain dengan ananda, orangtua sekali-sekali boleh mengarahkan, tetapi anak tetap yang paling aktif dalam bermain. Misalnya, ketika bermain masak-masakan, biarkan ananda yang menentukan bahan-bahan yang dipakai, bagaimana akan memasak, dan seterusnya. Namun Ayah dan Ibu bisa ikut memesan masakan yang disukai, Ibu pesan gado-gado ya, tapi cabe-nya satu saja ya.

Orangtua seharusnya lebih peka dan tanggap akan kebutuhan anak waktu bermain, dan selalu berikan dukungan sehingga anak tetap semangat bermain. Jika ananda terlihat mengalami kesulitan saat memindahkan mainan, misalnya, tanyakan, apakah ia ingin dibantu namun tidak secara langsung mengulurkan bantuan, Sini, Nak, Ayah bantu, melainkan katakan, Hmm...kayaknya berat, ya? Boleh Ayah tolong? Bisa juga dengan menyemangatinya, Coba Andi dorong pelan-pelan pakai kedua tangan. Ya, begitu. Pintar lo anak IbuJadi, jangan langsung membantu agar anak tetap bersemangat dalam bermain.
Berikut ini beberapa contoh kegiatan bermain yang dapat dilakukan oleh anak bersama orangtua, sesuai dengan usia anak.

1. Bayi dan Anak Bawah Dua Tahun (BaDuTa)
a. Bermain yang melibatkan gerakan pancaindra.
Bermain dimulai secara tidak sengaja, bayi melakukan gerakan-gerakan yang ternyata membuat dia senang, sehingga selalu diulang. Contoh kegiatan bermain ini adalah mengamati dan menggerak-gerakkan tangan, mengemut ibu jari, menyembur-nyemburkan ludah.
b. Bermain dengan benda.
Semua mainan yang dapat merangsang kelima indra (berwarna terang, berbunyi, permukaan kasar-halus, beraroma, dapat dirasakan). Mainan hendaknya cukup besar untuk bisa digenggam oleh anak, lembut, dan tidak tajam. Contoh, mainan yang dapat diurutkan dari yang kecil ke besar; mainan untuk masak-masakan, untuk minum; bermain air sabun; bermain pasir; mobil-mobila; buku bergambar tanpa tulisan; dan sebagainya.
c. Bermain pura-pura (simbolik).
Menggunakan alat-alat permainan atau benda-benda yang ada di sekitar seolah-olah sebagai suatu benda. Contoh, menggunakan pisang/bekas gelas plastik air mineral/kaleng susu sebagai telepon, menggunakan kotak-kotak sabun sebagai mobil, menggunakan panci bekas dan sendok sebagai alat musik, serta lainnya.

2. Anak Dua Tahun
Anak usia dua tahun mulai mengalami perkembangan dalam gerakan kasar dan halus, juga mulai bisa mengontrol gerakan tubuh, sehingga anak bangga dengan keberhasilan dalam kegiatan fisik mereka. Karena kemampuan bahasa mulai berkembang, anak juga mulai menggunakan bahasa. Beberapa contoh kegiatan bermainnya ialah bermain palang (terbuat dari besi atau kayu) sejajar untuk bergelantungan; naik-turun tangga; bermain gerobak untuk ditarik; perosotan; bermain di terowongan untuk merangkak; bermainan dengan benda yang dapat dikendarai; bermain kepingan gambar (puzzle) sederhana dengan potongan besar; manik-manik untuk dironce; tanah liat, pasir, adonan sagu/terigu (penting untuk mempertajam indra, bukan untuk menghasilkan suatu bentuk); dan sebagainya.

3. Anak Tiga Tahun
Anak usia tiga tahun sangat imajinatif (senang menciptakan tokoh-tokoh atau kegiatan yang bersifat khayalan) dan mulai senang meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa, terutama kedua orangtuanya. Kemampuan ananda untuk berteman juga semakin meningkat, sehingga mereka sudah lebih baik dalam kegiatan berbagi, menunggu giliran, dan bekerja sama dengan orang lain. Beberapa contoh kegiatan bermainnya adalah permainan yang menggambarkan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari seperti bermain truk/mobil-mobilan, pasar-pasaran, boneka, balok, tanah/pasir, spidol, pinsil gambar, dan krayon.

4. Anak Empat Tahun
Anak usia ini memiliki keseimbangan tubuh yang makin baik, gerakan halus lebih terampil, dan mulai memiliki perencanaan tetapi masih suka berubah-ubah. Contoh kegiatan bermainnya adalah berrmain sepeda, alat pertukangan, balok-balok yang lebih kecil dengan bermacam bentuk, bola sepak, membaca buku (dengan gambar dan tulisan), dan sebagainya.

5. Anak Lima Tahun
Anak sudah menunjukkan tanggung jawab untuk mengurus diri sendiri dan kepunyaannya. Biasanya mereka juga membutuhkan pengarahan dari orang dewasa. Contoh kegiatan bermainnya, antara lain: bermain menggunakan peralatan seni, seperti cat, sikat, krayon, spidol, gunting, lem, tanah liat, dll.; peralatan pertukangan atau masak-masakan, peralatan rumah tangga; alat permainan (ular tangga, halma, monopoli, dll).

Ibu dan Ayah, ingatlah, bermain merupakan cara anak belajar, tapi tetap yang paling utama adalah bersenang-senang. Melalui bermain, Ibu dan Ayah dapat memberikan pengalaman belajar yang bermacam-macam kepada ananda. Nah, supaya pengalaman bermain ananda lebih banyak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Ibu dan Ayah, yaitu:
1. Waktu untuk bermain.
Ibu dan Ayah hendaknya dengan sengaja menyempatkan diri dan menyediakan waktu untuk bermain dengan anak. Kegiatan bermain dilakukan pada saat ananda memang menginginkannya dan tidak pada jam-jam anak biasanya tidur. Misalnya, sesudah mandi dan makan pagi atau sore.
2. Ruangan bermain.
Bagaimana Ayah dan Ibu mengatur ruangan dan ruangan seperti apa yang tersedia, akan memberi pengaruh kepada cara bermain anak. Jangan menaruh hiasan kecil-kecil dan mudah pecah di tempat yang mudah diambil oleh anak.
Kalau ruangan yang tersedia untuk anak bermain adalah ruang tamu, biasanya anak bermain dengan permainan yang tidak memerlukan banyak kegiatan berlari.
3. Bahan dasar (utama) pembuatan mainan.
Saat ini kebanyakan mainan terbuat dari plastik, berhati-hatilah dalam memilih mainan yang cocok untuk anak kita. Bila memungkinkan Ayah dan Ibu dapat menggunakan mainan dari bahan-bahan yang tersedia di alam, seperti menggunakan wortel bagi bayi yang baru belajar menggigit.
4. Pengalaman sebelumnya.
Pengalaman Ibu dan Ayah bermain ketika kecil akan memengaruhi Ibu dan Ayah dalam melakukan kegiatan bermain bersama ananda. Contoh, orangtua yang saat mereka kecil diperbolehkan untuk main hujan-hujanan akan memperbolehkan anaknya untuk melakukan hal yang sama.
5. Mengamati.
Bila saat anak bermain, Ibu dan Ayah ikut mengamati, maka akan cepat tanggap terhadap kebutuhan anak dan dapat memberikan dukungan saat ananda mengalami kesulitan. Misal, kalau Ayah dan Ibu melihat ada air di lantai, sebaiknya cepat dilap, atau kalau melihat ujung meja terlalu tajam dan berbahaya untuk anak, maka lapisi ujung meja sehingga tidak lagi berbahaya, dan sebagainya.
6. Keterlibatan orang dewasa.
Keterlibatan orang dewasa atau orangtua dalam kegiatan bermain anak, hendaknya tidak menjadi pengganggu dan membuat anak tidak kreatif.

TIPS MEMILIH MAINAN BAGI ANAK
1. Mainan harus bersih dan aman, sesuaikan dengan usia anak.
Hindari mainan yang memiliki pinggiran tajam dan mudah pecah.
Hindari mainan yang mengandung cat berbahaya.
- Hindari mainan dalam bentuk kecil-kecil karena dapat tertelan atau dimasukkan ke dalam lubang hidung/telinga anak.
2. Sebisa mungkin kurangi mainan yang menggunakan listrik atau baterai.
3. Sebisa mungkin anak memiliki kesempatan yang sama antara bermain di dalam ruangan dengan bermain di luar ruangan.


Sumber Bacaan            
A Practical Guide to Early Childhood Curriculum. (edisi ke-8). Eliason, Claudia & Jenkins, Loa. Pearson Prentice Hall. New Jersey. (2008).

Children,play, and development. Hughes, F.P. (edisi ke-3). Boston: Allyn and Bacon. (1999).

Play and early childhood development (edisi ke-5). Johnson, J. F., Christie, J.F., Yawkey, T.D. NY: Longman. (1999).

Human Development. (edisi ke-10). Papalia, Olds & Feldman. McGraw Hill. (2007)

Bermain, mainan dan permainan. Tedjasaputra, Mayke S. Jakarta: P.T. Grasindo. (2001)

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan Nasional
Tahun 2011


Rabu, 02 Januari 2013

Orangtua dengan Anak Berkebutuhan Khusus


TANTANGAN BAGI ORANGTUA
Membesarkan anak adalah sebuah tantangan. Ibu dan bapak memiliki peran yang sama di dalam mengasuh anak-anak; peran yang saling melengkapi di dalam keluarga dalam membantu anak mengembangkan identitas dirinya. Hal ini berarti, ibu dan bapak perlu bekerja sama dalam memikul tanggung jawab yang seimbang agar anak-anaknya tumbuh dan berkembang optimal (baik).
Ketika ibu dan bapak mendapat karunia untuk membesarkan anak berkebutuhan khusus, tentunya situasi yang harus dihadapi akan menjadi sangat jauh berbeda. Ada dukungan yang harus lebih banyak diberikan, ada diskusi yang harus lebih sering dilakukan, ada kerja sama yang pastinya harus dijalin, berusaha sekuat tenaga untuk bisa menjadi model (contoh) yang baik, harus dapat menunjukkan rasa cinta yang tulus dan lebih kepada pasangan dan anak-anak.
Sebuah puisi indah yang bisa menjadi renungan:
”100 tahun dari sekarang, tidak peduli berapa banyak uang di bank yang saya miliki, jenis rumah seperti apa yang saya tinggali, dan juga jenis mobil apa yang saya kendarai…Tapi dunia akan menjadi berbeda karena saya pernah menjadi bagian yang penting di dalam kehidupan anak” (anonymous) 

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
  Setiap anak lahir dengan membawa potensi (kemampuan) di dalam dirinya yang harus dikembangkan secara optimal, potensi-potensi itu adalah: 
      1. Bahasa dan Bicara 
      2. Kemandirian 
      3. Sikap dan Perilaku 
      4. Kecerdasan 
      5. Keterampilan Bergerak 
      6. Sosial Emosional
Melalui pengasuhan, perawatan, pembimbingan, dan pendidikan (4P) pada anak yang dilakukan secara bersamaan dan berkelanjutan akan membuat potensi-potensi tersebut berkembang. Hanya saja, 4P pada anak menjadi tidak mudah jika anak memiliki masalah atau gangguan dalam tahap perkembangannya yang biasa disebut anak lambat berkembang (ALB) dan anak berkebutuhan khusus (ABK).
    ALB adalah anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan, satu atau dua aspek perkembangannya tidak sama dengan anak pada umumnya. Dengan kata lain, ALB adalah anak yang pada waktu dilakukan pemeriksaan perkembangan mengalami keterlambatan 1—2 aspek perkembangan dari tingkat umur.
      ABK adalah anak yang mengalami keterlambatan lebih dari dua aspek perkembangan dan lebih dari satu tingkat umur atau anak yang mengalami penyimpangan. Gangguan dan hambatan dalam beberapa aspek tersebut adalah:  
1. Fisik (tunanetra, tunarungu, tunadaksa) 
      2. Bahasa dan komunikasi (tunarungu, anak dengan gangguan 
   komunikasi)
3. Emosi dan perilaku (tunalaras). 
4. Sensorimotor (tunadaksa). 
5. Intelektual (tunagrahita). 
6. Bakat (umum dan khusus). 
7. Autisme. 
8. Gangguan belajar (learning disabilities).
  Dengan demikian, ABK membutuhkan layanan pendidikan khusus. ABK membutuhkan metode, materi pembelajaran atau kegiatan, pelayanan dan peralatan yang khusus agar dapat mencapai perkembangan yang optimal, karena anak-anak ini mungkin akan belajar dengan kecepatan yang berbeda dan juga dengan cara yang berbeda.

BERI SEBUTAN YANG BERMARTABAT
Walaupun ABK memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda dengan anak-anak secara umum, namun mereka harus tetap mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memberikan sebutan yang bermartabat kepada mereka.
Penyebutan bagi ABK telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Penerimaan akan penyebutan yang lebih positif menggambarkan bahwa ABK lebih banyak dilihat persamaannya dengan anak kebanyakan dibandingkan hanya memerhatikan perbedaan yang dimilikinya. Ketika seseorang dapat menyebutkan “anak penyandang tunanetra”, itu memberikan pemaknaaan bahwa kata “anak” di depan memperlihatkan pentingnya penerimaan kita akan anak itu sendiri, bukan sebagai sosok yang lain tetapi anak secara utuh. Kata “penyandang buta” (tunanetra) menunjukkan bahwa “buta” (tunanetra) merupakan kondisi yang dialami anak dan itu adalah persoalan kedua yang harus menjadi perhatian kita. Dengan demikian penyebutan “anak penyandang tunanetra” adalah untuk memperlihatkan bahwa anak itu lebih penting daripada ketidakmampuan yang dialaminya. 
Jadi, janganlah kita menyebut anak-anak berkebutuhan khusus ini dengan sebutan anak cacat, anak buta, anak autis, dan lain sebagainya, melainkan anak dengan keterbatasan kemampuan fisik, anak dengan ketidakmampuan untuk melihat, anak penyandang autisme, dan sebagainya.

MENERIMA KENYATAAN

Sebagai seorang psikolog selama lebih kurang 20 tahun, sudah ratusan orangtua yang saya temui dengan keluhan atau harus menghadapi anaknya yang didiagnosis sebagai anak berkebutuhan khusus. Seorang sahabat bercerita, ketika anak yang dilahirkannya didiagnosis mengalami sindroma down, ia pun merasa syok yang hebat. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya; ia merasa tidak percaya akan berita itu, sedih langsung menyergap, menolak kenyataan itu, bersalah mengapa harus melahirkan anak dengan kondisi seperti itu, membayangkan anak itu akan tumbuh dan berkembang berbeda dengan anak lain, hati selalu berkabung, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa dengan lancar mengucapkan kata sindroma down. Perasaan-perasaan seperti itulah yang berkecamuk pada orangtua ketika mengetahui anaknya didiagnosis mengalami suatu kelainan.
    Dalam psikologi, ada yang dinamakan “siklus kedukaan”. Ketika orang dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan, secara disadari atau tidak, dia akan berusaha menyangkal kondisi itu. Selain itu, orang juga bisa mewujudkan kedukaan tersebut dengan cara marah, entah marah kepada dirinya sendiri atau orang sekitar yang terdekat. Pendampingan yang bersifat netral dapat membuat orang keluar dari masa ini.
Ketika kedua tahapan ini dapat diatasi, yang bersangkutan dapat masuk ke dalam tahapan perundingan. Di sini ia mulai mencari cara untuk berkompromi, mulai bisa melihat sisi positif dari kejadian yang dialaminya, dan mencari-cari jalan penyelesaiannya. Jadi, ada tahapan depresi (sedih, perasaan tertekan) dan ada tahapan dimana orang mulai bisa menerima kenyataan yang harus dihadapinya, hingga akhirnya orang tersebut masuk pada tahapan penerimaan, yaitu bisa menerima kenyataan hidup secara objektif (yang sebenarnya).Demikian juga pada orangtua yang harus menghadapi kenyataan bahwa anaknya menyandang kebutuhan khusus.
Mereka akan melewati siklus ini, mungkin ada yang berhasil hingga bisa mencapai tahap penerimaan tapi tidak sedikit yang terbelenggu pada tahap penolakan, kemarahan, perundingan, atau depresi. Semua ini sangat bergantung pada kondisi fisik dan psikologis (kejiwaan atau mental) ibu dan ayah, anak itu sendiri, serta lingkungan sekitarnya. Dukungan positif dari lingkungan sekitar akan memberikan dampak yang baik bagi orangtua dan anak penyandang kebutuhan khusus tersebut.
Tentunya butuh waktu yang tidak sebentar bagi orangtua untuk bisa sampai pada tahapan penerimaan. Ketika sudah mencapai tahapan penerimaan pun, bukan berarti akan terus bertahan di tahap itu, karena bisa jadi malam mengalami kemunduran ke tahap yang lebih rendah, lalu meningkat lagi, dan seterusnya.
Ada salah satu orangtua dari anak penyandang autisme yang sudah menyadari bahwa anaknya harus mendapatkan terapi tertentu. Dia lakukan terapi tersebut dengan cukup tekun, bahkan dia pergi ke berbagai ahli untuk bisa “menyembuhkan” anaknya. Dari cerita ini terlihat, sudah muncul pemahaman pada si ibu bahwa anaknya harus mendapatkan perlakuan tertentu. Akan tetapi, bagaimana kenyataanya? Ternyata tidak.
Hal ini diperlihatkan dari cara si ibu memperlakukan anaknya sewaktu pergi ke tempat terapi. Ketika anaknya turun dari mobil, si ibu akan membawa anaknya seperti layaknya seseorang mengangkut sebuah karung barang: tangan si ibu mencengkeram kuat tangan si anak dan menarik si anak untuk masuk ke ruang terapi, sementara si anak berjalan dengan terseret-seret mengikuti ibunya.
Perlengkapan minum, baju ganti, dan buku terapi hanya dimasukkan ke dalam kantong plastik besar yang diikat dan dibawa oleh si ibu. Situasi seperti ini sangat jelas memperlihatkan betapa sang ibu masih sulit untuk menerima sepenuh hati kondisi anaknya. Walaupun ia tidak ragu untuk mengeluarkan uang ratusan juta rupiah bagi pengobatan anaknya, tapi si ibu masih kesulitan untuk mengikuti proses penyembuhan itu. Akibatnya, walaupun sudah hampir tiga tahun mengikuti terapi, namun hasilnya belum tampak bermakna.
Ada pula orangtua yang anaknya mengalami kelumpuhan pada kedua tangan dan kakinya, tetapi si anak selalu disembunyikan di dalam rumah, jarang dibawa ke luar rumah dan tidak pernah dibawa ke petugas kesehatan. Orangtua tersebut sepertinya merasa malu, sementara si anak semakin bertambah umur semakin terlambat perkembangannya dan orangtua pun menjadi bingung.
Kisah lain terlihat pada anak yang mengalami keterlambatan bicara berikut ini. Si orangtua, begitu mengetahui bahwa anaknya didiagnosis mengalami keterlambatan bicara, langsung bahu-membahu untuk mengantarkan sang anak mengikuti terapi bicara. Ibu dan ayah dengan sabar dan senang hati menunggu buah hatinya terapi bicara 2 kali seminggu. Terapi pun dilakukan dengan tertib dan disiplin; setiap tugas yang diberikan oleh terapis dikerjakan dengan baik. Kesabaran, penerimaan yang baik, serta kerja sama ibu dan ayah yang erat, terbukti memberikan hasil yang bermakna.
Dalam waktu 2 tahun, anak tersebut sudah bisa berbicara dengan cukup lancar dan bisa mengikuti pendidikan prasekolahnya dengan baik. Kedua ilustrasi di atas diharapkan dapat memberikan gambaran bagi ibu dan ayah yang memiliki anak berkebutuhan khusus bahwa tak mudah untuk menghadapi anak berkebutuhan khusus. Kadang orangtua putus asa, tetapi kemauan dan usaha yang keras dapat mengatasi kesulitan tersebut.
Memang, tak dapat dipungkiri bahwa orangtua dari anak berkebutuhan khusus pasti menghadapi lebih banyak kekhawatiran; bagaimana mereka membawa anaknya ke pegawai kesehatan, pemilihan sekolah yang sesuai, berkunjung ke dokter secara rutin, mengatasi stres dan frustrasi tingkat tinggi.
Walapun demikian, orangtua harus tetap bisa berada dalam kondisi yang sehat, baik secara fisik maupun psikologis.

TIPS BAGI ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS.
1. Segera bawa anak ke petugas kesehatan untuk diperiksa.
Ketika ibu dan ayah menemukan kondisi bahwa anaknya termasuk anak yang berisiko sebagai anak berkebutuhan khusus, segera bawa anak ke petugas kesehatan setempat (pegawai puskesmas) atau dokter untuk diperiksa dan dilakukan rujukan sesuai kondisi anak.        Namun, ibu dan ayah tidak perlu cepat-cepat memberikan label/cap kebutuhan khusus pada anaknya, seperti anak yang tidak bisa bicara dan tidak mau bermain dengan teman sebaya langsung dicap autis, anak usia batita yang bergerak terus dilabelkan hiperaktif, dan lain-lain. Penentuan gangguan yang dialami anak harus dilakukan oleh ahlinya.

2. Orangtua harus mendidik dirinya sendiri.
Pertama-tama tentunya ibu dan ayah harus tahu tentang pola perkembangan anak. Selanjutnya, dengan dibantu oleh guru dan pegawai kesehatan, orangtua memantau perkembangan anak melalui DDTK pada kartu KMS ataukartu DDTK. Dengan begitu, ibu dan ayah akan tahu, apakah perkembangan anaknya sudah sesuai atau belum.
Jika sudah diketahui bahwa anak didiagnosis dengan kebutuhan khusus tertentu, maka perbanyak pengetahuan dan informasi tentang gangguan atau penyakit yang diderita oleh anak. Dengan demikian ibu dan ayah bisa memperlakukan anak secara lebih tepat, karena orangtua adalah orang yang paling mengetahui karakteristik dan kondisi anak. Juga, perbanyak diskusi dengan ahlinya tentang pengetahuan dan informasi yang didapatkan orangtua untuk kepentingan si anak secara proporsional (seimbang).

3. Penanganan lebih lanjut oleh tim ahli.
Anak berkebutuhan khusus membutuhkan penanganan lanjut yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Sebagai langkah pertama, ibu dan ayah membawa anak yang dicurigai ada gangguan atau keterlambatan perkembangan ke pospaud untuk dinilai oleh guru dan petugas kesehatan. Apabila dinilai ada keterlambatan perkembangan atau gangguan perkembangan akan dirujuk ke puskesmas.
Di puskesmas sudah ada petugas kesehatan seperti dokter, perawat, dan bidan yang siap membantu. Apabila memang anak tersebut berisiko termasuk anak berkebutuhan khusus, biasanya memerlukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit Kabupaten,berupa pemeriksaan oleh dokter ahli, psikolog, dan kemudian menjalani terapi yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Sedangkan untuk pendidikannya memerlukan pendidikan khusus seperti SLB (Sekolah Luar Biasa), disesuaikan dengan diagnosis anak. Ketika memilih terapis, coba perhatikan, selain pengalaman dan kemampuannya yang mumpuni, juga banyak direkomendasikan (disarankan) oleh orangtua lainnya.
Carilah tenaga profesional yang memiliki sikap optimis (penuh harapan) akan kondisi anak dan memiliki antusiasme (minat yang besar) dalam menolong anak kita. Terapis yang baik adalah terapis yang mampu bekerja sama dengan orangtua dan anak, serta tahu betul dan bisa memberikan terapi yang benar-benar sesuai dengan kondisi anak secara individu.
Terapis seperti ini akan memberikan peluang yang besar agar anak bisa berkembang dengan lebih baik.

4. Hidup dengan anak berkebutuhan khusus sangat penuh tuntutan
Sehingga ibu dan ayah harus tinggal dalam lingkungan yang menunjukkan kesediaan untuk menolong. Harus ada pembantu atau pengasuh yang juga belajar tentang dasar-dasar terapi dan perlakuan yang harus diberikan kepada si anak, agar ibu dan ayah bisa secara bergantian dengan pembantu atau pengasuh melakukan terapi dan perlakuan tertentu di rumah. Ketika pembantu atau pengasuh menggantikan peran orangtua, maka orangtua dapat memanfaatkan waktunya untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga kembali, sehingga orangtua bisa terhindar dari kelelahan yang amat sangat. Ikutlah bergabung dengan kelompok pendukung orangtua anak berkebutuhan khusus yang sama, terlibat di dalam kelompok itu akan memberikan penguatan secara fisik maupun mental.
Ibu dan ayah dapat berbagi pengalaman dan memetik pengalaman dari orangtua lain yang sudah lebih berpengalaman. Penguatan dari kelompok yang sama akan memberikan makna yang sangat berarti. Seperti kegiatan yang dilakukan di klinik tempat penulis bergabung, secara regular (teratur) melakukan pertemuan untuk orangtua dari anak dengan sindroma down. Di dalam pertemuan itu dilakukan berbagai macam kegiatan, dari penambahan pengetahuan tentang sindroma down, pengembangan keterampilan di dalam melatih anak dengan sindroma down untuk latihan BAB dan BAK maupun kegiatan sehari-sehari, juga kesempatan bagi ibu dan ayah yang baru memiliki anak dengan sindroma down untuk berbagi kisah dengan orangtua yang telah lama memiliki anak sindroma down, serta mendapatkan dukungan moral dan cara-cara mengatasinya.

5. Mengubah harapan tentang apa-apa yang bisa dicapai oleh anak berkebutuhan khusus.
Jangan pernah mencoba membanding-bandingkan dengan anak lain; setiap anak memiliki cara dan kecepatan untuk berkembang yang berbeda dan sangat khas. Apalagi jika anak itu adalah anak yang memiliki kebutuhan khusus. Lebih baik pusatkan perhatian pada hal-hal yang bisa anak lakukan, cara ini akan mengurangi tingkat stres ibu dan ayah dalam menghadapi anak. Ketika anak baru mampu mengaduk gula di dalam segelas air teh, jangan memaksa ia untuk bisa membuat teh manis dengan takaran yang pas secara mandiri. Jika anak berkebutuhan khusus kita memiliki keterbatasan kemampuan intelektualnya, janganlah ibu dan ayah mempunyai harapan tinggi pada anaknya untuk memiliki kemampuan di sekolah yang kurang lebih sama dengan anak seusianya.
Lebih baik ibu dan ayah mencoba mencari aspek-aspek lain dalam diri anak yang mungkin masih bisa dikembangkan. Jika anak terlihat ada kemampuan di bidang olahraga atau seni atau keterampilan lainnya, coba berikan wadah agar anak dapat mengembangkan kemampuan itu. Mengutip kisah dari sahabat penulis tentang anaknya yang berkebutuhan khusus namun memiliki kecerdasan gerak yang menonjol, ia berikan kesempatan dan siapkan pelatih renang yang baik. Hasilnya, saat ini anak tersebut sudah mampu melakukan empat macam gerakan renang, suatu kemampuan yang mungkin tidak semua anak normal bisa mencapainya. Banyak anak autisme memiliki kecerdasan gambar yang tinggi, sehingga orangtua dapat mengarahkan dengan memasukkan anak ke sanggar lukis.

6. Bersikap proaktif (lebih aktif) atas perlakuan yang diberikan kepada anak.
Jika ibu dan ayah memiliki pertanyaan atas pengobatan atau perlakuan yang diberikan kepada anaknya, maka ibu dan ayah wajib mempertanyakannya, tidak perlu ragu karena itu merupakan hak orangtua. Ibu dan ayah adalah orang yang paling mengenal anaknya, sehingga jika ada perlakuan yang kurang tepat, ibu dan ayah dapat menyampaikannya.
Menjadi proaktif adalah cara untuk memastikan bahwa anak kita memperoleh perlakuan yang tepat dan sesuai bagi dirinya dan kita telah berbuat segala sesuatu yang mungkin kita lakukan bagi anak kita.

DDTK PUSKESMAS RSUD RSUP
DDTK merupakan alat pemantauan perkembangan anak yang dapat dilakukan oleh orangtua atau kader di rumah. Hasil pemantauan anak tersebut dapat diperkirakan apakah ALB/ABK atau sesuai.
PUSKESMAS, dokter, petugas kesehatan, perawat, bidan adalah orang-orang yang akan memeriksa kembali ALB/ABK yang datang. Untuk ALB bisa ditangani di tingkat puskesmas saja, namun jika ABK harus dirujuk ke tempat yang lebih lengkap yaitu RSUD atau RSUP.

DAFTAR LEMBAGA PEMERHATI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
  1. Happy Kids Therapy, Jakarta. CP: Silvia Yuliani. Telp. (021) 554 2722, 0812 8983 263. E-mail: silvia.yuliani@yahoo.com
  2. High/Scope Indonesia, Jl. TB Simatupang 8, Cilandak, Jakarta 12430. Telp. (021) 7591 7888
  3. Indraprasta II – Bogor 16152. Telp. (0251) 835 4866
  4. Klinik Pela 9, Jl. Pela No. 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Telp. (021) 726 2849, (021) 7091 1966, (021) 7091 1966
  5. Klinik Tumbuh kembang Anak FLOWRIDHA, Perum Puri Gentan Asri No. 7, Bulusan Rt 01 Rw 19, Sardonoharjo, Nganglik, Sleman, Jogjakarta, CP: Dwi, Amd. OT. Telp. 0881 2682 738
  6. PERKUMPULAN PEDULI ANAK, JL. H. Ahmad Sobana Kav. 17-19, Bogor. Telp (0251) 7191957
  7. PG,TK, SD Lentera Insan, Jl. Akses UI (Samping Puskesmas Tugu), Depok. Telp. (021) 919 1558
  8. Prasekolah, TK, SD Cikal, Jl. TB Simatupang Kav. 18, Jakarta. Telp. (021) 7590 2570/80
  9. RS Azra Jl. Pajajaran 219, Bogor , Telp. (0251) 318 456
  10. RSIA Hermina Bekasi, Jl. Kemakmuran No. 39, Margajaya, Bekasi. Telp. (021) 884 2121 (Hunting). Fax. (021) 8895 2275. E-mail: bekasi@herminahospitalgroup.com
  11. RSUPN DR CIPTO MANGUNKUSUMO, Jl. Diponegoro No.,71, Jakarta Pusat. Telp. (021) 391 8301-11. Fax. (021) 3134 8991
  12. 22 Orang Tua dengan Anak yang Berkebutuhan Khusus
  13. Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin, Jl. Jend. A. Yani No. 43, Banjarmasin 70233. Telp. (0511) 325 7472, (0511) 325 2180. Fax. (0511) 252 229. Homepage: www.rsudulin.com
  14. SD Pantara. Jl. Senopati Raya 72, Kebayoran Baru, Jakarta 12110. Telp. (021) 723 4581
  15. SD Umum Terpadu SPECTRUM Kelurahan Sawah Baru, RT 02/RW 05 (Dekat Pintu Tol BSD, Bintaro, Tangerang). Telp. (021) 7486 3152
  16. Sekolah Mandiga. Jl. Mulawarman No 3, Jakarta Selatan. Telp. (021) 722 0153
  17. TK, SD Bani Saleh. Jl. Graha Permai 2 Blok E-5, Margahayu, Bekasi Timur. Telp. (021) 881 7088
  18. TK, SD Islam Fitrah Al Fikri, Jl. Raden Saleh Raya, Studio Alam TVRI, Sukmajaya, Depok., Telp. (021) 7782 6868
  19. Today’s Club Education. Villa Bogor Indah, Ruko Blok E3/2 Lt. 2, Bogor. Telp. (0251) 656 587
  20. Yayasan Autisme Indonesia, Jl. Buncit Raya No 55, Jakarta Selatan 12760. Telp.????
  21. Yayasan La Sipala. Komp. Baranang Siang Indah IV Blok D No. 31, Bogor. Telp. (0251) 325 200
  22. Yayasan Mutiara Bunda di Gunung Putri, JL. Rambutan VIII Blok C 19 no. 1 Bogor, Telp. (021) 867 0077
  23. Yayasan Mutiara Bunda. Villa Bogor Indah, Blok E3 No. 21, Bogor. Telp. (0251) 661 256

SUMBER BACAAN
1. Family Education department, Essential Parenting Tips,       Singapore: Ministry of Community Development and Sports. 2001
2. http://rscm.co.id/
3. http://www.businessballs.com/elisabeth_kubler_ross_five_      stages_of_grief.htm
4.http://www.ehow.com/how_2054838_deal-special-needs-children.  html#ixzz0zOGeeElC
5.http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=05241&rubrik =teropong
6. Ichsan Teti., Buah hatiku memiliki Sindroma down.        Jakarta: Insos Books.2010
7. Kaltimpost.co.id. Oscar Yura Dompas (Rabu, 27 Mei 2009)
8. kamera-digital forum/ 14.09.2006
9. www.rsiahermina.com/

Dra. Rahmitha, S.Psi

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan Nasiona
Tahun 2011